Matahari mulai kembali keperaduan. Senja pun
sedikit demi sedikit mulai hilang pertanda malam telah tiba. Hm,. (sambil
menarik nafas dalama dalam) kapan aku bisa mele- pas hari hari menyebalkan
seperti ini. Teman teman mulai bersiap-siap pergi dengan pasangan mereka. Ada
juga yang mempersiapkan diri menyambut kedatangan sang pujaan hati yang datang
membawa sejuta kebahagiaan. Tapi, aku masih saja menyendiri dirumah.
Membosankan,
tak ada yang bisa dinanti, tak ada yang perlu dipersiapkan karena takkan ada yang datang menjemput untuk bersuka cita dimalam minggu.
tak ada yang bisa dinanti, tak ada yang perlu dipersiapkan karena takkan ada yang datang menjemput untuk bersuka cita dimalam minggu.
Aku seperti peribahasa ‘bagaikan katak dalam
tempurung’ menyedihkan. Aku juga pengen merasakan seperti apa yang mereka
rasakan. Bahagia memiliki pasangan tambatan hati yang bisa diajak untuk berbagi,
baik suka maupun duka. Bisa menghabiskan ahir pekan dan malam minggu bersama orang terkasih.
Ingin ku meronta, menjerit melepaskan rasa
sesak didada. Iri rasanya melihat mereka bahagia. Oh.. Tuhan kapan aku bisa
memilikinya.
***
Pagi itu, kulihat seseorang yang asing di
sekolah. Ia mengenakan seragam dengan sangat rapi, berdasi dan bertopi. Entah
kenapa pada saat itu aku bertindak layaknya wartawan yang mencari berita
eksklusif. Tanya sana, tanya sini, berharapa ada info tentang si dia. Aku
memang hebat. Memiliki bakat jadi wartawan. Buktinya, tidak lama kemudian aku
bisa mengatahui kalau ternyata ia kakak kelasku pindahan dari sebuah sekolah di
kota metropolitan, kotanya anak anak gaul dan berfikiran modern, katanya.
Hmm..wajahnya
cukup lumayan. Penampilan- nya juga menawan dimataku. Kalau boleh jujur mungkin
tipe pasangan seperti ini yang selama ini kucari. Pasangan yang bisa membawa hati
berbunga bunga hanya dengan memikirkan wajahnya saja. hingga mengundang
perhatian dan rasa ingin kenal didalam hati.
bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar